“PUISI ITU DEKAT: MENUMBUHKAN LITERASI REMAJA LEWAT KATA DAN RASA”
Penulis: Ica Marisa Agustiani, S.Pd., Gr.
Editor: Dr. Siti Zubaidah, S.Pd., S.E., M.Pd.I.
Sinopsis
Puisi Itu Dekat: Menumbuhkan Literasi Remaja Lewat Kata dan Rasa bukan sekadar buku, melainkan perjalanan sunyi yang mengajak remaja pulang kepada dirinya sendiri. Ia membuka pemahaman bahwa literasi bukan hanya tentang membaca huruf dan menulis kalimat, tetapi tentang belajar merasakan, memahami, dan memaknai kehidupan dengan lebih dalam. Di tengah riuhnya dunia yang bergerak cepat, literasi hadir sebagai Kompas, menuntun langkah, menenangkan arah, dan menjaga agar jiwa tidak kehilangan makna. Dalam perjalanan itu, puisi hadir sebagai suara paling jujur: sederhana, tetapi mampu menyentuh ruang terdalam yang sering tak terucap.
Buku ini menuntun pembaca menyelami puisi sebagai dunia yang hidup, bukan sekadar rangkaian kata, tetapi denyut rasa yang bersembunyi di balik setiap larik. Puisi menjadi cermin yang memantulkan kehidupan remaja: hangatnya persahabatan, sunyinya rindu pada keluarga, hingga harapan yang tumbuh diam-diam di bangku sekolah. Dari hal-hal yang tampak biasa, puisi mengajarkan bahwa selalu ada makna yang bisa dirasakan, jika hati bersedia mendengarkan.
Di tengah kenyataan bahwa puisi sering terasa jauh dan terlupakan, buku ini perlahan mendekatkannya Kembali, menghidupkan puisi sebagai pengalaman yang hangat dan menyenangkan. Ia tidak lagi berdiri kaku di halaman buku, tetapi hadir sebagai ruang rasa yang bisa dinikmati, dibacakan, dan dirasakan bersama. Dari sana, remaja diajak melangkah lebih dalam: menulis. Menangkap makna dari hal-hal sederhana, merangkai kata dengan kejujuran, dan menjelajah imajinasi yang membuat setiap puisi menjadi unik dan bermakna.
Ketika puisi memasuki era digital, ia menemukan cara baru untuk hidup. Ia hadir dalam warna, suara, dan gambar, lebih dekat, lebih luas, dan lebih mudah dijangkau. Namun, buku ini juga mengingatkan bahwa di balik kebebasan itu, ada tanggung jawab yang harus dijaga: menjaga keaslian, menghormati karya, dan menggunakan kata dengan bijak. Sebab puisi bukan hanya tentang apa yang ditulis, tetapi juga tentang dampak yang ditinggalkannya.
Pada akhirnya, buku ini mengajak remaja untuk menyadari bahwa puisi bukan sesuatu yang jauh dan sulit. Ia ada di sekitar, dalam tawa yang sederhana, dalam luka yang diam, dalam harapan yang belum terucap. Puisi adalah ruang di mana hati belajar berbicara, dan kata-kata menjadi jembatan menuju makna. Karena sesungguhnya, puisi itu dekat, ia hidup di dalam diri, menunggu untuk ditemukan, dirasakan, dan dituliskan dengan jujur.